Transformasi korban ke pelaku

 Pernahkah kamu bertanya, mengapa orang yang dulunya pernah memerani hidup susah, pernah berada pada titik rendah dimata sekitar kini malah memainkan peran sebaliknya? Ah, mungkin itu bisa kita definisikan sebagai efek dari pembulyan.

Tapi masalahnya ini terjadi bukan karena pembulyan secara terang-terangan atau terstruktur. Tapi yang lebih mengerikan dari pada itu adalah pembulyan secara keadaan terutama keadaan dalam rumah. Saya masih belum menemukan jawaban, seseorang yang dulunya sangat berambisi untuk keluar dari zona tidak menyenangkan kini menjelma menjadi seorang yang ikut melanggengkan rasa tidak menyenangkan itu. Ataukah itu memang sifat alamiah dari manusia?

Terbesit dalam kepala, sebuah pertanyaan yang tak mampu aku lontarkan kepadanya “Jika segala hal kau atur dengan ancaman disaat kekuasaan sedang ada dalam genggamanmu, akan kah itu abadi selamanya? Akankah kau akan tetap bernilai jika kekuasaan itu hilang?”. Dalam islam aku mengenal bahwa apapun niat baik kita tetap membutuhkan cara-cara yang baik untuk menyampaikannya. Lantas bagaimana ingin baik jika segala pemikiran hanya datang dari konstruksi pemikiran sendiri?

Jujur dan akuilah bahwa manusia merupakan makhluk yang lemah, yang selalu ada kepentingan atas apapun, baik yang disengaja maupun tidak di sengaja. Maka dari itu kita diturunkan Al-Qur’an untuk memandu, Rosul untuk mencontohkan dan sahabat-sahabat untuk menerjemahkan hingga kebahasa paling sederhana yang mampu kita pahami. Aku setuju denga napa yang di posting oleh hawariyun, bahwa jika manusia yang membuat aturan, maka gak akan pernah nemu titik adil, karena sampai kapanmu “adil” adalah sesuatu yang sulit untuk dilaksanakan oleh manusia. Maka perlu Allah dan aturannya untuk menghadirkan keadilan yang sejati.

             Setidaknya aku sedikit paham bahwa ketidak adilan yang aku lihat hari ini, semata-mata karena aturan yang digunakan adalah aturan kolaborasi antara akal dan nafsu manusia. Bukan aturan yang adil dari sang maha adil.

            Mungkin rupa dapat menipu, ibadah-ibadah fisik dijadikan sebagai ritual tanpa mendalami maknanya, lantunan ayat-ayat dijadikan music mp3 dan senandung dikala ada waktu senggang. Tapi sikap setiap insan sulit kali untuk menipu, apalagi jika banyak waktu yang dihabiskan dalam satu hari bertemu dengan orang itu-itu saja, maka terlihatlah bagaimana ibadah yang seharusnya menjadi pelembut sikap dan pengatur hawa nafsu, ternyata tak bukan hanya rapalan mantra biasa.

Komentar